Dialek mBanyumas

May 23rd, 2008 by jaweng

Bahasa merupakan sarana komunikasi, pergaulan, pola hubungan
kemanusiaan dan lain sebagainya dalam suatu masyarakat. Demikian halnya
masyarakat Banyumas, sebuah daerah di Jawa Tengah bagian barat,
berkembang bahasa jawa dialek Banyumasan. Bahasa Banyumasan yang sering
juga disebut bahasa Ngapak tersebut, mempunyai ciri khas dan keunikan
tersendiri. Namun, seiring perkembangan zaman bahasa Banyumasan
terancam ditinggalkan secara berangsur-angsur oleh mayoritas
masyarakatnya.
Salah satu keunikan bahasa Banyumas adalah
terdengar lucu, setidaknya oleh masyarakat daerah lain karena dianggap
tidak lazim sebagaimana umumnya bahasa Jawa. Seperti, ucapan, piye
menjadi kpriwe, sopo menjadi sapa, atau iki menjadi kiye, dan
lain-lain. Di samping itu bahasa Banyumas memiliki spesifikasi berupa
penggunaan vokal dan konsonan pada akhir kata yang diucapkan dengan
jelas. Seperti, tiba, sega, mangga, jeruk, manuk, kepadhuk, dan
lain-lain.

Anggapan lucu bahasa Banyumasan oleh orang luar
inilah kemudian menimbulkan perasaan malu serta menganggap rendah
(inferior) budaya sendiri sebab bahasanya dinilai kasar dan menjadi
bahan tertawaan. Stereotip semacam ini kemudian berkembang di luar
Banyumas. Hal ini menyebabkan yang dianggap rendah tidak hanya dialek,
tetapi budaya banyumasan secara keseluruhan, misalnya busana, gagrag
wayang, atau perilaku pergaulannya. Akhirnya, banyak orang Banyumas
tidak ingin menampilkan jatidirinya mereka lebih menyukai gaya Sala
atau Yogya dalam hal bahasa, busana, nama, sampai pakeliran.

Penggunaan bahasa Banyumasan bukan hanya
masyarakat kabupaten Banyumas saja, tapi lebih luas lagi pada kabupaten
Cilacap, Banjarnegara, Purbalingga, atau yang pada zaman dulu masuk
dalam Karisidenan Banyumas. Di samping itu daerah yang tidak termasuk
eks karesidenan tersebut juga menggunakannya meski dalam cengkok atau
aksen yang sedikit berbeda. Seperti, Tegal, Kebumen, Wonosobo, dan
Brebes.

Di samping itu, bahasa sebagai identitas daerah
merupakan nilai keanekaragaman budaya nusantara yang perlu
dilestarikan. Adanya globalisasi misalnya tidak lantas mencerabut akar
budaya lokal seperti bahasa yang mempunyai nilai strategis sebagai
bahasa pergaulan dan ‘bahasa rakyat”. Untuk menyelamatkan kondisi itu,
langkah yang bisa dilakukan antara lain masyarakat Banyumas harus sadar
bahwa bahasa Banyumasan merupakan aset sangat sebagai modal membangun
dengan dasar budaya sendiri.

Bahasa Banyumasan merupakan alat
transformasi nilai-nilai masyarakat Banyumas itu sendiri. Di samping
itu untuk situasi informal bahasa lokal juga masih berfungsi maka perlu
dilestarikan dan harus mendapat dukungan dari semua pihak.Harus ada
upaya bersama membangun pikiran guna melestarikan bahasa tersebut
dengan pola yang integral pada keseluruhan aset budaya yang dimiliki.
Ahkirnya, dengan ‘menampik dirinya sendiri’ atau mengidentifikasi diri
sebagai orang lain sesungguhnya bukan budaya dan mentalitas masyarakat
Banyumas.